Sponsor/Adverstisement

Search This Blog

Tuesday, February 26, 2008

Obey Your Thirst! Jesus Is Waiting

Cerita Injil (Yoh 4:5-42 / 4:5-15, 19b-26, 39a, 40-42 )tentang perempuan Samaria yang bertemu Yesus di sumur sangat menarik untuk direnungkan dan mengandung banyak hikmat untuk hidup manusia. Cerita ini menggambarkan bagaimana Yesus rindu untuk bercakap2 dengan kita dan Ia ingin meringankan beban hidup kita supaya kita tidak seperti perempuan Samaria yang setiap hari mencari air untuk hidup dibawah panas teriknya matahari padang gurun. Percakapan ini disebut Doa dalam kehidupan iman kita. Katekismus #2560 "The wonder of prayer is revealed beside the well where we come seeking water: there, Christ comes to meet every human being. It is he who first seeks us and asks us for a drink. Jesus thirsts; his asking arises from the depths of God's desire for us.Whether we realize it or not, prayer is the encounter of God's thirst with ours. God thirsts that we may thirst for him."

Dijaman sekarang ini hidup memang sibuk dan waktu serasa semakin pendek tetapi pekerjaan semakin banyak. Maksud dari kemajuan teknologi adalah agar manusia bisa lebih nyaman/convinience tetapi yang terjadi sekarang malah sebaliknya yaitu banyak orang semakin sibuk karena mereka menjadi selalu available dimanapun dan kapanpun mereka berada dengan adanya cellphone, laptop and internet connection. Beban pekerjaan terasa semakin berat dan kualitas hidup semakin menurun. Waktu luang digunakan untuk refreshing seperti nonton TV, baca majalah, atau jalan2 dan makan direstorant dengan teman. Bagaimana dengan Doa? punyakah kita waktu untuk Doa? untuk apa kita berbincang2 dengan Tuhan?

Pada dasarnya setiap manusia haus akan: kebahagiaan, cinta, ketentraman, keamanan, kenyamanan, dan kedamaian. Cara refreshing seperti diatas adalah upaya setiap manusia untuk memperoleh kenyamananan hidup dengan melepas kejenuhan atau kelelahan dan untuk menikmati hasil dari jerih payahnya. Tapi semuanya itu bersifat sementara, yaitu, memuaskan hanya saat itu saja. Setelah kembali bekerja, kehausan itu akan timbul kembali. Tuhan Yesus dalam cerita injil diatas menawarkan "The Living Water" barangsiapa minum air ini dia tidak akan haus lagi. Dia mengerti kehausan setiap manusia dan Dia mempunyai jawabannya.

Apa itu the Living Water? Living Water adalah Firman Tuhan yg memberikan kehidupan. "Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan,demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya." ( Yesaya 55:10-11). Firman Tuhan kita temukan dalam kehidupan doa sehari hari dan Ia akan memberikan segala yang diperlukan dalam hidup kita. Saya sendiri adalah saksi hidup bagaimana Firman Tuhan yang datang dalam hati saya telah banyak menyelamatkan saya, memberikan penghiburan, mempertobatkan saya, menguatkan keputusan saya dalam hal2 besar, dan menuntun saya ke jalan yg benar. Kalo melihat balik, jikalau dulu saya menjalani hidup tanpa Firman Tuhan, maka saya yakin tidak akan seindah sekarang ini; Saya yakin saya banyak menemukan jalan buntu karena keputusan2 saya yg salah; Juga banyak cara hidup yang melenceng yg tidak akan membawa kebahagiaan dikemudian hari tetapi dekat dengan air mata kesedihan. Firman Tuhan saya dapatkan lewat doa, Ekaristi, waktu membaca kitab suci, atau dari nasihat orang2 bijak dalam perkumpulan2 doa. Firman itu sungguh hidup bagi saya karena Ia bisa menjawab kehausan hidup saya tepat pada waktunya. Dan itu bukan hanya kebetulan semata, karena ini terjadi berulang kali. Nothing is random but everything is in order.

Yesus sering mengetuk hati kita dan Ia ingin berfirman dengan kita. Tapi seringkali kita cuek terhadap panggilan tersebut. Pada saat ketukan hati itu datang, kita lebih memilih nonton sitcom/sinetron di TV ketimbang berdoa, atau kita lebih memilih membaca majalah gossip daripada membaca kitab suci. Tuhan tidak ingin merampas kebebasan kita atau mengurangi "fun" dalam hidup ini. Tapi Dia ingin menambahkannya sehingga apa yang kita punya adalah berkelimpahan bukan hanya cukup. Dia ingin kita "thrive " dan bukan hanya "survive" dalam hidup ini. Nonton, jalan2, main games, atau malas2an di sofa memang bisa membuat kita "survive/lolos" dari hari ke hari untuk keluar dari kejenuhan dan rutinitas pekerjaan. Tetapi Doa membuat hidup kita menjadi "Thrive (bertumbuh subur)", " Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah ( Yer 17:8).
Karena lewat kehidupan Doa, Firman itu masuk dan membasahi hati kita, memberikan pertumbuhan, dan memuaskan kehausan setiap manusia.

Hari sabtu kemarin, saya jalan2 ke Death Valley, CA. Suatu padang gurun dengan kondisi ekstrem yang pada musim panas bisa mencapai 57 derajat celcius. Namanya padang gurun, tanahnya adalah batu2an dan pasir sehingga sulit sekali tanaman untuk hidup karena tidak ada air. Tapi karena curah hujan yg tinggi dan tidak seperti biasanya tahun ini, padang gurun yg biasanya gersang ini terlihat hidup dan indah karena banyak bunga2 kecil yang muncul ( liat foto diatas). Begitu pula hati kita yg kering saat menerima "Air" dari Tuhan, hati kita akan menjadi indah dan hidup. Seorang Evangelist Katolik, Jesse Romero, pernah mengatakan kepada saya " Happiness is a state of mind, it comes from inside and not outside" Hati yang indah akan menyinarkan hidup yang bahagia karena kebahagiaan datang dari dalam hati bukan dari luar, dan sumber kebahagiaan itu adalah Yesus, Firman yang hidup, The Living Water! yang kita temukan saat kita menjawab panggilannya yaitu dalam Doa.










Wednesday, February 20, 2008

Janji Tuhan: Berkelimpahan Dalam Hidup

Sejak pertama kali, Tuhan selalu mempunyai niat yang amat baik bagi semua ciptaannya, yaitu memberkati mereka dalam kelimpahan dan kebahagiaan. Tuhan tidak meninggalkan apa yang telah diciptakannya setelah hari ke-6 dan beristirahat, tetapi Dia selalu memelihara mereka dalam Kasihnya. Tuhan tidak perlu beristirahat pada hari ke-7 karena Dia maha kuasa. Tapi hari ketujuh diperuntukkan untuk manusia ( Markus 2:27). Pada hari ke-7 Tuhan memberkati seluruh ciptaannya dan memberikan dirinya untuk mereka sehingga relasi antara sang pencipta dan ciptaannya tidak terputus. "Sheba" (1) dalam bahasa Ibrani berarti "Oath-swearing/sumpah/sakramen" diturunkan dari kata angka "tujuh" dalam bahasa Ibrani juga. Dan "oath-swearing" jaman sekarang ini selalu digunakan dalam sakramen perkawinan antara kedua mempelai agar mereka setia satu sama lainnya atau dalam pengadilan/sumpah jabatan. Jadi pada hari ke-7 bukan Tuhan beristirahat tetapi Dia mengikat dirinya dengan ciptaannya dan ikatan ini seperti ikatan perkawinan. Oleh karena itu kita harus menyucikan hari Tuhan karena hari itu adalah hari untuk mengenang kasih Tuhan kepada ciptaannya seperti layaknya hari perkawinan.

Karena Tuhan tidak pernah meninggalkan ciptaannya dan Ia selalu setia, maka niat Tuhan pun sama dari dulu, sekarang ,dan selama2-nya ( Ibrani 13:8) yaitu memberkati manusia dengan berkelimpahan dan kebahagiaan. Waktu kita mendengar kata berkelimpahan, selalu hal yang pertama yang kita pikir adalah "uang". Padahal uang adalah hanya salah satu bagian untuk menunjang kehidupan yang bahagia. Waktu saya berbincang2 dengan saudaraku dalam Kristus, my mentor, Chanuka Erdita, dia kutip dari buku (Speedwelath by T. Harv Eker) "Wealth is not just money...Money is a convenient symbol that represents and measures the values of goods and services exchanged between people." Buat orang2 yang terpanggil dalam kehidupan berkeluarga, uang memang salah satu cara untuk hidup layak didunia ini tetapi tetap bukan satu ukuran mutlak untuk kebahagiaan dan hidup berlimpah. Contoh: banyak cerita nyata yaitu orang yg sudah berkelimpahan uang merubah hidupnya menjadi sederhana dan banyak berderma bagi orang2 miskin karena disitu ia akhirnya menemukan kebahagiaan. Bagi orang yang hidupnya terpanggil ke kehidupan klergi atau pelayanan penuh, seperti blessed mother Teresa atau St. Francis Asisi, uang bagi mereka semakin rendah prioritasnya dan mereka tidak begitu memerlukannya seperti bagi mereka yang dipanggil untuk hidup berkeluarga. Tetapi nyatanya mereka tetap hidup berkelimpahan dan bahagia. Tuhan tidak pernah melarang orang menjadi kaya dalam cerita injil Lukas 12, tetapi yang menjadi kesalahan atas orang kaya ini adalah dia bertumpu pada kekayaannya dan berpikir bahwa bahagia datang dari banyaknya kekayaan(3). Tuhan melarang kita berbuat seperti itu karena Tuhan tidak mau kita berjuang susah payah untuk menjadi bahagia tetapi akhirnya tidak menemukan apa apa pada akhir perjalanan kita. Karena kebahagiaan letaknya adalah dalam relasi kita dengan Tuhan bukan dengan kita dan barang dunia.

Tuhan ingin memberkati kita secara berlimpah dalam segala aspek kehidupan kita, contoh: dalam pekerjaan, dalam keluarga, sekolah, relasi sosial antara teman dan saudara, dalam kesehatan, dalam keturunan, keselamatan, dan yang lain2 (lihat Ulangan 28: 1-14). Jadi, jangan kita hanya berburu uang untuk mencari kebahagiaan tetapi perhatikanlah yang lain dalam hidup kita. Kadang, hal2 yang kecil suka terlupakan, contoh: pola makanan kita; apakah kita sehat dengan pola makanan seperti sekarang ini? makan makanan berminyak atau fastfood karena sibuk bekerja sehingga angka kolesterol kita 250? Dengan makan sembarangan berarti kita tidak mempratekkan hidup secara berkelimpahan. Apakah kita punya banyak dendam atau sakit hati dengan saudara2 kita atau teman2? berusaha menjauhi mereka kalo bertemu? Apakah kita terlalu sibuk bekerja untuk mencari uang, sehingga olah raga pun tidak termasuk dalam agenda kita. Atau jalan2 dengan keluarga tetapi tidak pernah lepas dari cellphone untuk membicarakan bisnis. Apakah gunanya uang kalo kita tidak sehat? apakah gunanya uang kalo keluarga tidak akur? apakah gunanya uang kalo hidup tak tentram karena banyak musuh. Karena hal2 demikian tidak bisa dibeli oleh uang. Kalo kita masih pelit untuk berderma kita juga belum hidup dalam berkelimpahan karena orang yang tidak memikirkan orang lain tidak akan damai hidupnya dan mereka seperti orang yang sakit perut. Sakit perut? yah betul! bayangkan kita makan terus dan menerima terus sekenyang-kenyangnya tanpa pernah buang air besar, bagaimana rasanya? demikian pula hidup kita, janganlah kita egois dan hanya menerima terus, tetapi kita juga harus menyumbang bagi saudara2 kita yang miskin.

Ulangan 28: 2 berkata demikian " Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara Tuhan, Allahmu..." Suara Tuhan/Firman Tuhan yang utama adalah : Kasihilah Allahmu dengan segenap tubuh, jiwa, dan Rohmu dan kasihilah sesamamu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri.
Apabila kita melakukan 2 perintah utama ini, maka kita berada dalam jalan yg benar, yaitu jalan menuju kelimpahan dan kebahagiaan. Dan apapun panggilan kita, jalankanlah dengan Kudus.

Referensi:

(1) A Father Who Keeps His Promises Scott Hahn
(2) Alkitab Deuterokanonika 1976
(3) The Root of All Evil Marcellino D'Ambrosio, Ph.D.